Jumat, 24 Februari 2017

Untuk “Halaman Yang Lain”


Bismillah.
Tepat jam 12 malam. Aku berdoa dan berterima kasih kepada pengalaman selama setengah bulan ini. Banyak hal yang aku dapatkan dan rasakan, sebagai seseorang yang pernah memiliki keinginan yang pada umumnya sama diinginkan yang lain.
Seseorang pasti ingin punya teman yang sangat paham kita, seseorang yang bisa bercanda, lepas dan bercerita segala macam hal tentang putaran waktu yang terus dilalui. Suatu ingin itu, pernah dan pasti menjadi pengalaman yang menarik. Seolah kita telah mendapatkan segalanya. Meski suatu hari, kembali ke asing dan sunyi. Kembali menjadi yang lain, yang tak sama, bahkan melampaui semua kebiasaan yang dari awal dirasakan.
Situasi semacam itu terkadang awalnya aku tantang dengan memberontak, menganggap bahwa itu semua tak adil. Dan, semua itu tak akan mudah aku terima. Tapi, rupanya setengah bulan ini, aku telah menjadi yang lain juga, menjadi sesuatu yang siap dibedakan, yang memilih jalan lain untuk tak sama.
Aku diberi kesempatan untuk menyelami emosi dalam diriku sendiri, sebuah goa yang gelap, sebuah kecelakaan yang fatal yang mampu memberiku kenangan berwajah luka-luka. Keterasingan membuatku tak belajar menjadi hal yang utuh. Tak pura-pura untuk tak kecewa tapi diamku karena mungkin luka dan cerita di bibirku tak mampu melahirkan kata-kata.
Seorang guru, ketika berdiskusi denganku lewat Surat dari Timur menyalakan lilin baru, menunjukkan sesuatu yang aku punyai dari beberapa puisi di Surat dari Timur, ia mengantarkan aku pada pintu dan memberiku kunci untuk lebih jauh masuk ke dalam hal-hal yang lain, dilainkan, tak sama, dibedakan, dan semuanya seumpama firasat yang telah lengkap aku bukukan nanti setelah aku menghela nafas dari menekuri jalan diam dan menerima atas semua pembedaan dan dilainkan.
Tema besar, judul baru, dan pengalaman baru, akan mengarahkan diriku melengkapi setiap jerit yang lain, kesunyian yang fatal untuk mengungkap, sejatinya semua akan menjadi lain ketika kata-kata lahir sebagai hal yang beda dalam pengucapan. Aku sendiri telah lelah merasakannya. Meski dalam hal ini, aku merasa telah sampai pada sakit yang amat sangat. Aku tak pantas percaya padahal yang maya, pada hal yang tak aku liat dan tak pasti. Ini jalanku sekarang meski aku akan tetap berteman dengan siapapun karena dengan tetap begitu, aku tak pernah melainkan sesoarang sebagaimana aku merasakan dilainkan.
Aku, mendapatkan energi baru, belajar pada luka, dan membuat kembali sketsa perjalanan yang lain, untuk tiba-tiba muncul sesuatu yang aku anggap sia-sia ternyata bisa jadi tungku untuk cahaya makna, ya. Suatu saat, air mata yang lain, kata-kata yang lain ini, tak akan asing di tengah-tengah kita.
Sekarang, aku bermaksud menguatkan tekad dan niatku. Mumpung malam, mumpung semua yang beda dan yang lain sedang mendengarkan suara-suara yang lain. Kepada seorang guru, aku berterima kasih padamu. Ada kontak bathin itu pun bathin yang lain yang juga berdoa, semoga merawat ayah yang lain untuk segera sembuh. Amin.



Moncek, 250217


Minggu, 05 Februari 2017

YANG TERBUANG DAN AKAN HILANG

Tiga hari yang lalu, ya ini hari ketiga, aku merasa lebih nyaman ketika bapakku dinyatakan bisa dibawa pulang, tapi malam itu surga demam tinggi, aku harus bolak balik menembus malam guna mengontrol kedua orang yang aku sayang. Entahlah, aku melalui itu semuanya dengan baik. Bapakku bisa dibawa pulang setelah dua malam harus nginap di rumah sakit. Kini, aku mesti merawat surga, yang lucu adalah ketika malam kedua, aku menerima sms surga demamnya sampai 3,7. Hujan deras sekali, dan waktu menunjukan jam 2 malam, aku melihat emakku udah pulas, bapak batuknya udah terdengar lagi. Giliran surga pikirku.

Aku menerobos hujan, apes sekali malam itu, aku tak bawa jas hujan, ah tapi peduli amat. Sampai di rumah, aku memeriksa tubuh surga, panasnya luar biasa, aku melepas bajuku yang masih basah karena hujan, dan aku melapas baju surga. Kata Surga, aku sudah sembuh pa, anak ini memang begitu, meski panasnya tinggi pasti akan bilang begitu. Aku menggendongnya. Aku bolak balik tubuhnya, sampai semua panas itu aku pindahkan ke tubuhku. Aku selalu membuat sugesti. Surga panasmu aku ambil ya? itu dalam pikiranku. Surga tertidur dengan pulas dalam pelukanku dan aku meletakkannya ke bantal. Aku masuk ke kamar, jiwa dan pikiranku sungguh lelah, telpon sana-sini mengenai pekerjaanku juga mendesak. Di sisi iman aku tertidur pulas. Sampai jam 4 pagi, aku tersentak. Aku buru-buru bergerak ke Rumah sakit lagi.

Iyah, dalam perasaanku dan pikiranku, bahwa aku selalu kuat dan tangguh, tanpa harus menghilangkan senyumanku. Aku berpikir, aku banyak memiliki teman, tapi berapa orang yang peduli kataku. Kamu? kamu kan lagi memikirkan dirimu sendiri juga. Ah, hehe. Tapi tak melulu soal kamu, kamu sudah kamu. Dan, ini aku sudah kembali dengan semangat. Tapi saat dirimu dan keluargamu sakit, aku selalu memberimu semangat. Kamu itu aku, aku itu bukan kamu. kamu adalah kamu, dan kamu hanya memikirkan kamu.

Selasa, 06 Desember 2016

ALAM PEMIKIRAN SEKOLAHKU

Hei. Sekarang aku sapa dirimu lagi. Aku lama tak berkunjung ke sini. Lama aku meninggalkan semua ingatan. Tidak lama juga seh! Hanya berapa bulan dan minggu, hanya berapa puluh hari. Tapi, sekarang aku datang ingin menuliskan sesuatu. Aku mendapatkan berapa hal yang pantas aku bagi denganmu meski dalam bentuk tulisan ini yakin juga tak kan kau pahami.

Ini sudah Desember, tadi aku dimarahi seseorang karena aku mengira ini Kamis. Ih, lalu aku bertanya ini bulan ke berapa? Halah dalah ternyata pertanyaan yang kupikir mudah dijawab menuai cibiran. Apa saja yang kamu pikirkan seh, Fen?

Aku tak terlalu sibuk memikirkan hari dan bulan. Aku juga tak berpikir menghitung kesalahan-kesalahan. Lumrah bukan? Aku bisa melupakan kesalahan, bisa memaafkan meski kebanyakan orang kalau kepadaku tak menganggap punya kesalahan dan tak penting ada perkataan maaf atau minta maaf.

Aku tertawa, lalu aku merenung sebentar di antara penjualan minuman yang masuk ke dalam kerumunan laki-laki. "Mas, mau minum?" Tidak. Kataku. " BUMI INI BUNDAR KATANYA, JADI KALAU KAU BERANGKAT DARI SELATAN KAU AKAN MUNCUL JUGA DARI SELATAN"

Dari apa yang aku renungkan itu, aku jadi berpikir begini, seseorang pernah sangat ingin tidak mau bertemu seseorang. Tapi akhirnya juga bertemu. Di titik itulah, benar kataku. Bumi bundar, hanya ruang dan waktu yang berputar dan kita akan kembali pada yang menggerakkan semesta. Terlepas diterjangkau nalar, atau tidak nalariah. Sejatinya, pengetahuan kita yang selalu kita anggap sebagai kesadaran hanya tetes embun di samudera lepas.

Minggu, 13 November 2016

SURAT TERAKHIR



Aku hanya menatap punggungnya yang tak kembali menoleh padaku. Punggung yang selama ini menjadi sandaran saat letih, saat aku ingin bermanja meski sekedar saja aku hanya ingin merasakan lembut belaiannya, saat yang mungkin tak akan pernah ada. Aku kembali, benar-benar tak bisa mengajaknya kembali karena ini sudah jalan takdir di antara kita. Meskipun aku juga tak tahu mesti bagaimana ke depan, mengeringkan luka dan menghapus ciumannya saat aku sedang bermimpi menakutkan tentang satu malam yang menjadikan diriku luruh.
Kulihat, di sana ia sedang diburu-buru masa lalu, diburu sekian sedih karena tak tahu, ia selalu bilang kepadaku. “Aku ingin menemukan diriku dalam rasa galau. Dalam segala yang sampai ini belum kutemukan jawaban apapun.” Ia pun selalu berkata padaku. “Nda...bila satu hari kau ingin melupakan aku. Maka saat itulah aku akan meneruskan seluruh perjalananku sendiri.” Aku waktu tak begitu mengerti tapi aku sangat yakin. Ada rasa yang aneh yang ia rasakan kembali. Tapi ia tak mau jujur meski ketika kulihat matanya. Kucari di sana bentuk kegelisahannya, ia hanya memalingkan wajahnya dan pura-pura membersihkan kakinya yang memakai sandal jepit.
Andi, katanya saat tangannya menjabat tanganku. Aku menjawab anida. Kami lalu jadi akrab. Dan sama-sama menyukai puisi warna senja. Tak tahu dari mana awalnya, ternyata kelahiran kami hanya berpaut dua tahun, di bulan yang sama cuma beda tanggal dan itu pun beda satu angka. Kami selalu merayakan ulang tahun bersama. Dia lebih awal akan mengingatkan aku. Mengirimkan puisi lewat telpon dan menceritakan beberapa hal tentang harapan dan doanya saat ini dan sejak dulu. Seperti pula aku tak bisa membuatkannya puisi jangan kata-kata indah.
Aku hanya mampu menyimpan semua kata-kataku. Untuknya jauh lebih berharga dari pada sekedar puisi. Dia yang selalu membangunkan aku di tengah malam karena hadir dalam mimpi-mimpi. “Selamat ulang tahun yang, And!” Biasanya hanya kata itu. Dan ia mulai nakal. “Ah, kamu tak mencium aku ya?” Sambil tersenyum. Senyum yang selama ini mampu menahanku untuk selalu sabar di dekatnya. Aku menjadi tak kuasa tersenyum dan hanya berkata. “Kamu ini kayak anak muda saja yang berumur belasan tahun.” Kataku. Padahal aku juga tak tahu harus bagaimana. Bagiku aku ingin memeluknya. Melepas semua inginku tapi sekali lagi. Selalu ada saja yang menahan bibirku untuk mengucapkan, aku sayang kau And.
Andi bagiku seorang yang selalu membuatku ceria meski kutahu di balik semua itu banyak luka yang masih mengalirkan darah deras di sekujur tubuhnya. Tapi ia kadang mampu melupakan rasa sakitnya dan merawatku seperti bunga yang mesti segar setiap pagi lalu dia akan berbisik dengan pelan, kau itu bunga yang aku rapikan di jantungku yang paling dalam. Katanya sambil kurasakan deru napasnya yang tenang.
Tak terasa kini hanya kenangan. Andi telah melangkah jauh dan lenyap ditelan waktu. Aku kesepian, Tetapi aku tahu. Andi tak pernah akan sudi melihatku menangis, tak akan mau dia melihat aku terpuruk. Lalu karena itu semua. Aku tak pernah menyerah. Dan selalu aku simpan semua tentangnya, semua tentangnya yang tak akan lapuk. Tak akan sirna meski hujan terus datang. Musim dan cuaca berganti. Dan kini aku telah bekerja di sebuah sekolah sebagai guru teatre. Di sebuah sekolah di dataran gunung di salah satu di desa Sumenep. Aku menyimpan berapa agenda. Satu saat aku yakin dan mampu membuat Rendi hidup dan selalu memberikan semangat padaku. Yah. Dipertunjukan itu, naskah-naskah itu. Andi tersenyum. Hei, seolah dia memegang pundakku saat latihan pernapasan pertama kali, saat ia ajarkan aku meringankan beban dan melepaskan sesak dadaku. “Hidup ini indah,” katanya padaku. Saat itu aku kembali hidup. Kembali lahir dari semangatnya. Dari tatapan matanya yang selalu berbinar.
“Andi, kau di mana sekarang, aku rindu kau.” Kataku. Dalam dadaku memanggil Andi. Rasanya ingin sekali menarik waktu kembali. Memberikan semua yang ia maui. Semua itu seperti perhatianku, dan seperti yang Andi berikan kepadaku. Ia begitu hangat, begitu tak peduli meski apapun yang aku katakan kadang terlalu pahit ia dengar.
Lama sekali waktu ini. Aku mulai menulis cerita-cerita pendek. Puisi dan entahlah semua ungkapan itu, semua wajah Andi menghiasi lembaran-lembaran penyesalan yang ingin aku sampaikan. Selama itu juga aku tak mau menyerah. Mengirim ke seluruh media. Berharap sekali Andi masih aktif membaca koran-koran, meski ia tak mampu berlangganan koran. Tapi dulu Andi selalu memberikan koran bekas dan menunjukkan puisi dan cerpen-cerpen yang menurutnya indah.
Dari caranya memberiku gambaran, caranya ia menjelaskan dan caranya mendengarkanku itu telah membuatku tenang, telah menjadikan aku hangat. “Andi! Aku rindu kau, kau di mana sekarang?” Kembali aku menulis sebuah pengembaraan meski tak semua yang aku tulis membicarakannya. Tapi aku selalu memberikan ungkapan dan kata-kata yang aku juga berharap kalau Andi membaca tulisanku nanti ia akan mengingat aku kembali.

###########

1 Tahun, 2 Tahun, 3 Tahun. Aku telah hidup sendirian dan memilih sendirian. Memang aku telah hidup dengan jiwa yang lain, jiwa yang tak mungkin akan diisi oleh siapapun. Dan aku juga tak berharap banyak hal kepada waktu. Kepada Andi misalkan ia telah bahagia dengan siapapun di sana. Aku hanya bertahan dengan diriku. Dengan rinduku. Dengan cintaku. Dengan kekesalanku sendiri karena tak mampu mengucapkan cinta dan rindu serta rasa takut kehilangan saat Andi meninggalkan kota ini. Dan ia telah memilih pergi karena sebagian yang telah ia berikan, ia anggap sudah membuatku bisa bertahan dan dewasa serta kuat melewati waktu.
Satu hari aku pernah merasakan kehadiran Andi. Ketika aku berjalan di depan toko buku. Kulihat gerak dan kudengar renyah tawanya. “Ah Andi, kau di sini.” Kata hatiku. Aku mendekati seseorang itu dan pura-pura melewatinya dan aku menoleh dengan pelan-pelan. Sayang! Ternyata bukan Andi. Wajah Andi tak seputih orang itu. Tubuhnya juga tak sebersih Andi. Lebih dari itu Andi tak memiliki kegemaran mengurus tubuhnya. Ia dekil tapi senyumnya tetap manis. Senyum yang selalu aku lihat sebagai sesuatu yang tulus. Sama ketika dia marah dia tak akan menyimpan kemarahannya. Andi tak pandai berbohong.
Keesokan harinya. Ada hasrat aku kembali ke toko itu. Meski pemuda itu bukan Andi aku ingin melihat dan mendengarkan tawanya kembali. Tawanya persis ketika Andi mengajakku bermain di satu lembah. Mengajakku mengejar kupu-kupu dan senyum kepuasaannya saat ia memberikan kupu-kupu itu padaku sambil lalu mengerlingkan matanya dan menggenggam serta berucap, “pegang ini nda!” Lalu tangannya begitu hangat menggenggam tanganku. Aku malu memandang tatapan sayunya. Tapi jauh di dalam hatiku. Ada debaran jantung bergerak cepat. Katanya, “jangan takut, kupu-kupu ini tak akan pernah menggigitmu,” katanya padaku. Dan oh kembali dia tersenyum dan menjawil hidungku. Tunggu di situ ya nda, aku akan mencarikanmu kupu-kupu yang lain.
“Nda!...Tolong aku?” Teriak Andi dari lembah itu. Aku berlari secepat mungkin. Dan aku mencari Andi. “Andi, Kau di mana?” Tak ada jawaban dari Andi. Aku menyusuri semak-semak. Degup jantungku kian cepat. “Andi!” Panggilku. Tapi tetap saja tak ada jawaban. Ku berbalik ke arah kanan. Ku cari di sana. Oh Tuhan. Andi tergeletak di dekat batu cadas. Aku segara menghambur tubuh Andi. “Andi, Bangun!, Bangun!” Kataku. Air mataku tak tertahan. Andi tetap saja tak bergerak. Di sela kebingunganku itu aku mencium wajah Andi sambil menangis sampai terakhir kalinya aku mencium dan menggigit bibir Andi tanpa sadar hanya didasari tak ingin ada apa-apa sama Andi.
“Wooi...sakiit...ndaaa!” Andi berteriak kesakitan dan aku tanpa sadar telah menggigitnya agak keras. “Hei, kau kenapa menangis.” Tanyanya padaku. “Kau itu Andi  tadi kenapa bisa pingsan. Dan kau tak sadarkan diri.” Andi kayak linglung dan baru sadar. Akhirnya ia aku papah. Dan kenangan itu sulit aku hapus. Sulit sekali. Karena Rendi yang hangat selalu tersenyum. “Eh, kau menggigitku ya? Nanti sikat gigi ya? Takut kena virus dari tubuh jelekku ini.” Katanya meski sangat menyebalkan. Aku masih mencubit perutnya.
Panjang juga lamunanku di toko buku itu sampai tak kusangka buku yang harusnya aku baca tergeletak dan basah oleh air mataku yang selalu merindukan sosok dekil yang menyejukkan itu. Meski aku juga tak pernah sadar orang yang aku tunggu tak akan pernah datang dan kembali. “Kau di mana Andi?” Tanya batinku selalu.

##########

Tiba-tiba saat hari minggu ada pak pos mengantarkan surat entah dari siapa. Tapi aku anggap ini hal yang biasa dan aku meletakkan surat itu karena mesti menyelesaikan beberapa tugas mengajarku dan menyusun kembali serta mengedit cerpen-cerpenku yang tak selesai.
Sampai sore aku jadi ingat pada surat itu. Aku sambar dan aku buka pelan-pelan. Aku membacanya dengan tak ada rasa karena masih terasa penat otakku setelah mengerjakan tugas-tugasku.
“Hei, Anida apa kabar?” Lama sekali aku tak menyapamu. Selama itu pula aku tak paham harus mengewali suratku dari mana. Aku Rendi. Dalam surat itu aku baca dan aku begitu semangat serta terasa sekali hangatnya dadaku dan pancuan jantung yang cepat berkelebat.
“Aku telah banyak membaca cerpen-cerpenmu. Kadang aku tersenyum, terkadang aku juga sedih tapi semua itu tak penting aku sampaikan di sini. Dan asal kau tahu. Aku begitu bangga padamu. Aku begitu ingin berada di sampingmu. Melalui hari-hari yang pernah kita sebut sebagai kesedihan. Dan pada saat itulah aku juga paham. Aku mesti pergi karena aku tahu aku begitu peduli sama kau. Peduliku padamu melebihi kepada aku sendiri. Dan aku mesti malu juga. Karena aku selalu tak pernah bisa jujur. Semoga lewat mataku. Lewat semua yang kau rasakan. Kau paham. Aku begitu sayang kau. Tetapi pada kenyataan, rinduku, sayangku. Memang tak mesti ada di sampingmu selalu. Aku mesti pergi dan menyimpan sejumlah misterinya hidup sendiri. Aku mesti menghilang dan meyakinkan diriku. Bahwa tanpa aku. Kau pasti jauh lebih kuat. Aku sudah melihat itu. Kau sekarang sudah terkenal. Dan aku masih merasakan dirimu. Degup jantungmu. Semua rasa malu-malumu, keluguanmu, masihkah itu nda?”
Aku membaca surat Andi tak berasa ada di dunia. Aku merasakan getir yang tak tersampaikan seperti biasa ia selalu mampu menutupi dirinya dengan senyum. Ah, Andi!
“Nda...! Kuingin cerita sedikit setelah aku pulang dan pergi darimu dan kotamu. Karena aku telah tak punya pilihan apapun. Setiap aku akan berkunjung padamu. Aku merasakan tubuhku makin kurus. Tidurku tak tenang. Dan aku telah resmi divonis oleh dokter tinggal sekitar seminggu lagi. Tapi aku pikir kau tak usah peduli. Sebab aku hanya tersenyum dan tertawa. Nanti kalau kausempat berkunjung ke desaku. Kau boleh membuka kunci lemariku. Di sana ada berapa kado untukmu.”
“Nda...! Aku pamit. Tetapi aku akan abadi di jantungmu dan aku akan lebih dekat denganmu. Sejauh kau selalu menyebut namaku. Semua harta warisan orang tuaku telah aku alihkan kepadamu. Jadilah penulis yang mapan dan kenalilah jiwamu yang menyimpan banyak mutiara.”

Salam.

Ah, aku serasa tak mampu berdiri, dan surat ini aku hempas, aku segera berangkat ke desa Andi dengan segala harapan masih bisa menemani hari-hari terakhirnya. Aku akan ucapkan rasa cintaku, rinduku yang selama ini aku tahan, aku pendam.
Sesampai di Desa Andi di Madura. Aku sudah tak melihat apa-apa lagi. Rumahnya kosong dan hanya paman dan bibinya yang menyilahkan masuk dan memberiku sebuah kunci dan ternyata betapa sakitnya hatiku. Surat itu sengaja diantar terlambat ke kantor pos oleh pamannya atas permintaan Andi sendiri dan ini sudah hari ketujuhnya. Rendi telah tiada nak!. Kata bibinya dan aku memeluk perempuan itu. Lalu tanganku dituntunnya kekamar Andi dan kamar itu penuh dengan lukisan-lukisan wajahku. Kupu-kupu dan oh Ndi. Kau kejam sekali. Di lemari itu kau tulis surat-surat kepadaku dan aku membaca catatan harianmu. Puisi-puisimu. Ah. Aku tak kuat. Aku tak mampu dan semuanya kau hadapi sendirian.

(Cerpen ini belum sepenuhnya saya edit, dia akan jadi bahan novelku)


Selasa, 08 November 2016

DUA BAYANGAN



“Apa kau ingin membelah tubuhmu, dan tubuh kita akan jadi puing-puing?” Saat kau tak sadar, bahwa dalam kemarahanmu ada rindu yang terus subur, tapi kau khianati terus-terus, tanpa henti-henti, kau menolak setiap cahaya, setiap sesuatu yang indah yang muncul dari setiap pori-porimu, kau juga menolak kesadaranmu, membenci dirimu sendiri, lalu melemparkan bara pada bayanganmu yang lain. Bayangan yang lain adalah bayangan yang selalu kau anggap ingatan, kau anggap kenangan, tapi kini kau menolak semuanya, semuanya kau anggap sebagai hasutan, dan pikiranmu dengan sadar menolak kesadaran dari segenap kebutuhan tubuhmu.

“Aku ingin menghadiahkanmu bunga kaktus ini!” Kata bayangan yang lain, sebelum senja benar-benar kau usir dari dari ranjangmu, meloncati pagar terali, melempar semua yang muncul dalam dirimu. Kau meyakini, kau tak butuh apa-apa. Kau tak mempercayai cinta, dan kau menghardik semua kerinduan yang tiba-tiba muncul dari setiap bunyi lonceng di dinding berbunyi, serupa jantungmu yang memanggil-manggil nama sesuatu. Nama itu, kau pasti ingat, adalah bulan Oktober setiap taman kau anggap rindang, setiap cahaya kau anggap indah, setiap pertemuan mata kau anggap keberuntungan. Itu dulu, sebelum kau tak percaya pada jiwamu, pada kebutuhanmu, pada denyut-denyut yang kau sebut adalah energi.

“Bila hujan, aku suka berdiri di depan kaca jendela.” Katamu. Waktu itu, aku menyukai setiap sapamu, setiap kelembutanmu, setiap doa-doa yang kau lantunkan seperti nyanyian ketika tiap malam hanya memberiku kegelisahan. Tapi, itu semua kau tolak, kini hanya sebuah bentakan, kemarahan yang kerap muncul karena penolaka-penolakan. Di dalam tubuhmu, sebenarnya masih tersimpan ribuan benih yang siap lahir bersama senyummu. Tapi, kau lupa menaburinya. Kau menjadikan bayangan lain sebagai penghalan, dan kau tak percaya lagi pada cahayamu, pada sinar yang kau anggap sebagai kekuatan. Kau, berlari kian jauh, kian menjadi asing. Kau sebut itu sebagai pancaroba, sebagai sesuatu yang beralih fungsi dari senyum ke luka, dari bahagia ke membenci. Dan. Kau pun tak mempercayai poros waktu berulang dan terus akan sama, hari-hari kembali lahir, tapi kita lupa untuk melahirkan kebahagiaan kembali.

“Aku marah padamu, karena aku tak tahu lagi menyampaikan segala sesuatu.” Ya, semuanya telah berlalu. Semuanya telah direstui dengan segenap ingin dan seperti yang kau pikirkan, melelahkan, tidak nyaman, dan lagi-lagi seolah tiada kehendak untuk duduk diam, tenang, menikmati secangkir kopi dan akhirnya, aku juga mengerti, di sini aku tak diberkati, di sini aku dianggap mati dan di sini aku hanya berharap sendiri.

2016





Minggu, 06 November 2016

B A H A G I A



Seperti bunga, layu menunggu gerimis sembari menikmati 
gemeretak kemarau di ranting-ranting yang tulus menemani waktu: 
mengerti rukun hidup--kematian, sedang matahari lelah 
meminta hujan pada embun yang pelan-pelan naik ke puncak awan;

Seperti ilalang, sempat menarikan gelisah akar-akar 
jagung juga tembakau sembari meletakkan teduh di lembah, 
di ngarai yang membelah tanah-tanah kerontang menjadi humus; 
angin mencari istana bakau yang hilang ditelan pantai dan gelombang;

Seperti itu, aku menulisnya dalam kampung sajak; sunyi 
hampir ditelan sempurna oleh segenap gema; di lorong-lorong itu,
tersisa jejak semi dan kering yang kian mengharukan birunya luka:

"Serupa nostalgia pohon kelengkeng dan sebaris puisi 
di mata seorang ibu yang meneteki nasib anaknya; 
lalu ada kidung tra lala--tri lili sampai mata tertidur 
pulas digendong kehidupan."

Moncek, 2016

TAMU TENGAH MALAM


di dalam dirimu, aku melihat diriku
mengecil di pojok ruangmu, tempat bacamu
dan kau melihat dunia dari lubang jendela;
aku mengutus angin, membelai rambutmu
sambil mungkin aku berujar, aku datang
dari derit pohon bambu atau dari ilalang
sekitar kau akan menuliskan lagi, puisi
tentang hidup, keindahan; hutan-hutan

sementara aku, menepi jadi aksara-aksara
memasuki ruang pikiranmu lalu menjelma
sebentang kenangan, di suatu taman tua
kala itu hujan datang, dan dirimu juga ada
di sampingku membetulkan lagi jaketku
sambil terus berlarian ke pinggir jalan
mencari angkutan untuk membawa tubuh

sekarang apa yang kau ingin tuliskan?
sebentuk prosa yang lerai di tengah gulita
atau semacam luka yang tak nemu obatnya
ah, sudahlah, aku melihatmu, di mataku
dan mataku telah menjelma pantai; lautan
tentangmu yang buru-buru menutup pintu.

061116


Sabtu, 05 November 2016

MUSIM SUNYI

Berulang kali aku menuliskan puisi, sunyi!
seperti nyala lilin yang sungguh amat kecil
tak ada yang mampu memberi hangat, di sini
ingatanku seperti beranjak makin tua, renta
di balik semua keinginan akan perjumpaan

Ini semi telah dilalui kemarau, dan ini sepi!
aku menulis lagi namamu, di secarik kertas
yang rindu pijar mentari di pelupuk matamu
tapi, aku tak paham, kau enggan jadi angsa
yang selalu ingin berjalan memecah sungai

Sementara teratai menjulurkan akar-akar
ke dalam jantungku ada sebuah risalahmu
terdengar begitu dekat, begitu menyayat
memanggil namamu, mengetuk pintumu
sungguh aku tak mau, aku tak jadi malu

Sepi, musim semi seperti rindu yang gugur
di ladang puisi itu aku terus memanggilmu
meski aku tahu, malam hening, ini sunyi
menjadi puisi yang sungguh memilukan

: kini


Moncek, 2016

Senin, 31 Oktober 2016

SEMACAM KENGAWURAN.

Pagi ini, aku ingin menulis sesuatu, sesuatu yang selama ini aku pikirkan. Misalnya pertemanan, relasi dan hubungan persaudaraan dengan dalih apapun orang lain akan menghormati sekecil apapun komunikasi yang sedang dijalani atau direkayasa untuk menghindar dari perasaan yang sesungguhnya terjadi. Tidak menutup kemungkinan sesuatu yang kita alami melahirkan sebuah kekecewaan, sebuah kenyataan yang tak datang dari awal tapi muncul di belakang hari.

Tentu saja, aku masih mengalir kemana-mana, alias ngawur dulu, mau kemana dan apa yang ingin sebenarnya aku tuliskan. Yah! aku sudah memiliki 3 buku, beberapa karya bersama juga, pernah dimuat di beberapa media lokal atau yang nasional. Sejatinya, aku mesti melihat ini sebagai evaluasiku sendiri. Aku tak memiliki teman yang sangat pahampun kepada diriku. Mereka adalah orang yang lain yang sama denganku dan selalu membutuhkan sebuah kepahaman dari orang lain. Tapi, teman tetaplah penting. Aku tak menafikan hal itu, begitupun di sastra Indonesia, pertemanan itu sangat kuat. Seperti tali yang paralel dan tak ada putusnya. Semua membentuk jaringannya dan berlomba-lomba untuk semacam adu panco. Iya, dulu aku memiliki berapa teman yang kupikir tulus, tapi sekarang, makin kesini, mereka hampir sama meski tak sebetul-betulnya sama dengan orang-orang lain.

Jelasnya, makin kesini, aku makin sadar diri untuk diam pada tempatku menelan beberapa pengalaman semacam kekecewaan kronis mungkin begitu, atau mungkin akan ada yang lebih kronis ketika aku harus tetap melangkah. Dulu, aku mempercayai sesuatu, sekarang hampir saja semuanya menjadi luruh dan rasanya aku akan mengambil semacam jeda sementara, semacam waktu aku melihat diriku lagi, sampai aku punya alasan untuk kembali dan kembali menatap dunia. Tapi, pilihan ini semacam pilihan yang belum final. Biasalah, aku jadi ingat kalau ada teman mengatakan ini padaku : sebenarnya yang marah dirimu atas beberapa pilihanku.

Cukup, sepertinya aku banyak pengalaman, mungkin bagi mereka, aku memang tak sebegitu penting, suatu jalan yang hanya diumpan ibarat umpan dikail yang dilempar untuk memancing. Aku tak sebegitu paham, tak sebegitu mengerti dengan setia, cinta, apalagi hal-hal yang dianggap kesadaran. Ternyata dari ujung ini, aku mesti melihat kemampuanku yang kampungan, yang selalu berpikir pada satu kesetiaan, pada satu tujuan. Tapi, kayaknya ini tak bakalan ada. Bila ada posisi menguntungkan, atau posisi lebih utama, bersiaplah untuk kehilangan teman-temanmu atau kehilangan visi yang dibuat secara bersama.

Di kolong ini, aku meminta maaf, kepada semesta, meski berapa orang tak akan tahu bahwa aku minta maaf, tapi biarlah semesta yang menyampaikan maafku dalam bentuk lain, kedamaian, doa kepada seluruh kawan-kawanku, seluruh orang yang pernah kecewa, saudara dan guru semuanya. Tidak ada gading yang tak retak, seolah ini jadi penyemangat baru, bahwa selalu dan pasti semua orang memiliki masa lalu dan catatan kesalahan. Tapi, pepatah itu, seolah memastikan ada maaf, ada sesuatu hal yang bisa diperbaiki. Nah, sementara ini, aku belum menemukannya, seolah benda yang tak bergerak, batu yang besar yang juga siap diarahkan kepada kepalaku.

Ada, beberapa tugasku yang belum selesai, buku akar rumput, buku amin, buku yuanda dan lagi buku Arsita. Tapi, aku hanya memokuskan untuk dua buku, buku amin dan buku "akar rumput" sedangkan untuk buku Arsita, awalnya telah kami kerjakan dengan baik. Namun, karena belum ada kepastian soal ongkos cetak dengannya dulu maka aku hentikan. Sedang buku Yuanda, aku akan mencari uang dulu untuk "mengembalikan" simpanan untuk buku selanjutnya. Hehe, sedang uangnya telah habis di tanganku. Iya, ini harus aku katakan dengan jujur, karena aku tak akan lari dari tanggung jawab ini. Apa yang akan aku kerjakan ke depan?

Adalah, menjadi seseorang yang biasa dan melepas diri dari semua hiruk pikuknya. Yah, mungkin aku akan mencintai sastra, itu pasti! aku akan merawat beberapa yang telah aku lakukan, sekali-kali berkumpul dengan kawan-kawan. Nah, ini bayanganku. "ah, kau tak pernah berkomitmen pada apa yang kau katakan" jerit seorang kawan padaku. Memang, ini hanya semacam catatan biasa, benar juga aku tak pernah berkomitmen, kalau besok aku dipanggil "Presiden JOKOWI" untuk baca puisi di Istana akan hilang semuanya. Bukankah semuanya begitu? Apa ada yang benar-benar berkomitmen? Nothing.

Sementara waktu, aku akan membiarkan beberapa alat komunikasiku aktif, berharap dari sana kejenuhan dan keletihan jadi kurang terasa dan aku benar-benar tak jadi memilih pilihan yang di atas yang aku anggap sebagai pilihan tanpa pilihan. Jelas! aku masih ingin mengirimkan beberapa buku "surat dari timur" ada beberapa orang yang belum bayar dan beberapa orang ingin menuliskan esai pada sebagian puisi yang mereka sukai. Masih ada celah bertahan sementara waktu. Tapi, setelah ini bila udah benar-benar jumud, aku, kampung jerami dan semua kawan telah tak aku anggap ada.

Nah, ada buku Cerpenis Lampung Yuli Nugrahani yang mempercayakannya untukku jadi tempat pemesanan, Ah, iya, aku juga punya tanggung jawab. Sebenarnya secara tanggung jawab aku telah melakukannya meski mungkin tak begitu baik. Aku membawa buku itu kemana-mana, menawarkannya, dan mempromosikannya. Iyah, aku menggunakan tanggung jawab sebagai "penerbit" dan "adik" aku bangga pada buku itu, mungkin, aku benar-benar mengurusnya dari awal, dari proses nol sampai selesai bahkan sampai hari ini. Tapi, mungkin aku mengecewakan dari sisi menejemen. Tapi, aku punya dua 3 bulan untuk memenuhi tanggung jawabku.

Umirah Ramata, adik yang satu ini selalu paham diriku. Aku minta maaf sebesar-besarnya kawan-kawan.






Sabtu, 08 Oktober 2016

AKU CERITAKAN PADAMU

Seorang yang pernah meletakkan bahasa pada tubuhnya, meyakini pergumulan yang panjang sebagai sebuah arus yang juga deras adalah sendi-sendi yang bertautan, tak dipisah dan memiliki sebuah keajaiban, ia meyakini, kalau jalan bahasa adalah tubuh, tubuh yang selalu saja mengeluarkan sesuatu yang mustahil, kadang tak mampu ia kaitkan ini sebagai logika, ia juga kadang menolak sebuah gagasan yang terlalu sadar atas hadirnya dimensi ruang dan jarak yang menciptakan sebuah jerit atau gema yang berulang-ulang. Lalu, orang-orang di pasar itu menyebutnya sebuah kenangan.
Aku ceritakan padamu lagi, seorang yang terus mencintai tubuhnya dengan kadang lupa merawatnya dengan sabun, minyak wangi tapi dengan terus membumbui setiap pori dengan luka dengan terus mengenangnya sebagai sebuah kekuatan, ia memang agak gila, agak memilih tubuh sebagai keyakinan berbahasa, keyakinan itu ia tempuh sendiri dengan terus mempertanyakan fakta-fakta yang kadang ia tak anggap sebuah kejadian yang di luar tubuhnya sebagai sebuah kelaziman, ia yang selalu suka memiliki tubuhnya dengan perihnya, dengan senyumnya dengan semua yang dianggap oleh orang-orang di pasar tadi sebagai sebuah rumus yang mesti dipahami sebagai kesadaran yang sempurna, sedang baginya kesempurnaan adalah yang terus berkembang sesuai dengan dimensi dengan ruang yang tiba-tiba tak disadari sebagai kenyataan, kenyataan yang baginya juga memberinya sebuah jalan menuju sepi, menuju tubuhnya sendiri, menjadi bahasanya sendiri.
Seorang yang tak menolak kehadiran sebuah kekosongan, ketika ilmu logika menganggap sebagai rumus terendah bagi kesadaran, tapi tidak baginya, jalan itu, adalah kosong, tempat adalah sepi, dan bahasa itu adalah hening yang keluar dari setiap medan tubuhnya sebagai alat kecil penyambut, langit dan bumi, tubuhnya hanya pelantaran bagi sebuah kekuatan yang besar yang tak bisa diukur oleh timbangan kesadaran.
Ia yang hari ini sedang menikmati hikmatnya kematian bagi tubuhnya, bagi bahasanya, bagi semua luka yang tak lagi mampu memberinya kekuatan, ia yang masih sibuk mencari dirinya sendiri, lepas dari panggung-panggung lalu menjebak dirinya sendiri ke dalam hampa, ke dalam sunyi untuk mampu bertemu hening kembali. Dan, baginya tubuhnya adalah kejadian-kejadian, adalah luka-luka yang mampu meneriakkan semua yang pergi, semua yang tinggal tapi berarti, semua yang dimaksudkan adalah jalan pengecut baginya, seseorang yang ingin matanya terpejam, dan tak memberikan warna apapun pada tiap yang keluar dari bias-bias. Aku jadi ingat puisi di bawah ini:

LAYANG-LAYANG KERTAS

Lalu, pagi membawaku ke sini seperti layang-layang kertas
merasakan sisa hujan bersembunyi dari kejaran dingin. Dan
ternyata tak ada yang berubah. Pintu keluar dan bercak kenangan
yang juga belum semuanya dihisap waktu, masih ada.

Sejenak, aku diam diguncang bimbang dan kecemasan
belum lepas dari kantung mata. Tak ada jemputan serta
kalungan bunga. Tapi, tiap kejadian masih nakal
menahan langkahku.

Di satu sudut pendengaran, lagu Ska mengalun riang,
mengajakku untuk tersenyum. Dan, tiba-tiba kumiliki
energi kecil untuk kembali, terbang dari kota ke kota.

"Puluhan orang berbanjar menyiapkan foto kenangannya
untuk dipajang di dinding sebagai sisa perjalanan. Aku juga.
Sebelum nanti taliku putus, melayang lalu hilang."

Stasiun Kota, 21 Maret 2015

"dimuat di antologi Tanah Silam dan Majalah Horison"


Jumat, 07 Oktober 2016

MARI TERUS SEMANGAT KAWAN-KAWAN FORUM BELAJAR SASTRA (FBS)


Aku senang, karena Riika Puspita Dewi telah juga mulai belajar menulis puisi. Mulai pertemuan kemarin dia sudah menulis. Maka ini akan terus bergelombang disambut kawan-kawan yang lain. Bukan perkara bagus dan tidaknya dulu. Tapi memulai itu sudah bagian yang luar biasa. Aku jadi ingat dengan perkataanku, "Menulis puisi itu mudah, yang sulit adalah mau memulai dan menguatkan tekad untuk terus belajar"
Forum Belajar Sastra dalam catatanku sudah ada sekian kawan yang mulai menulis sekali lagi bukan dan bagusnya dulu bukan begitu Soeaidi KandjenkWan Di MegaremengMuhammad RamsiSusilawatiChoirur RahmanRifqi PikacuSufryadi BunyaminIlalang KirmiziTiEn Tha Q,AKslin Ainur. Mungkin ini terlepas dari rasa lelah, rasa tak percaya dan sekaligus rasa bahagia, kami yang hanya memiliki semangat belajar pelan-pelan saling mengalirkan semangat. Tak ada orang terkenal di sini, tak ada yang istimewa, setiap kawan-kawan mau belajar hanya dengan menyanyi, saling tersenyum.
Kegiatan kami tak bermodul, dan tak dikelola dengan menejemen yang bagus, kami mengalir, kadang kami liar, kami gunakan alam raya, kami mengubah kelas jadi sesuatu yang lebih akrab, memang akan ada yang memandu diskusi, tapi hanya sebatas bertukar proses dan pengalaman, bukan guru, karena kalau ada guru mesti selalu ada gaji, dan kawan-kawan semua bisa mengajak siapapun, kami kadang juga melaksanakan workshop dengan pihak dan teman dari luar, kami melaksanakan workshop dengan menggunakan kebersamaan: bawa makan dan minum sendiri, lalu menjaga kebersihan setiap tempat yang kita jadikan seolah kelas, kelas yang menurut kami sebagai tempat yang mulya.
Mungkin, ini hanya sebatas igauan, sebatas harapan ke depan, sebatas semangat kami, kalau ke depannya, kami akan selalu begini, perlahan-lahan turun ke basis-basis, menggunakan sekolag-sekolah, menggunakan balai-balai desa tapi tetap kami memiliki tempat yang indah sebagai gerbong nafas kami yaitu : Pujuk Pongkeng.
Lama juga aku tak menuliskan kegiatan Forum Bahasa Sastra, setelah agak letih dengan semua hal-hal yang menyeretku dalam kesibukan, tapi hari ini, tepatnya sejak kemarin, salah satu dari anggota FBS memanggilku dalam postingannya, "Kak, aku belajar menulis puisi juga" katanya. Lalu, aku membaca tulisannya, memang masih butuh waktu, dari cara penulisannya, dll. Tapi sebagai proses aku menghormati upaya itu. Aku pun menolak ungkapan kata "guru" karena aku menguatkan diriku untuk tidak menggurui mereka dalam persoalan "kreatifitas" aku hanya akan jadi teman, kalau pun ada aku di depan, itu tak lebih sebagai pemandu saja.
Aku mencintai kalian semua dan mencinta setiap proses yang telah atau akan jadi simpul dari cara kawan-kawan FBS dalam berproses.
Semangat!!!
(Merasa tak buang waktu, seolah begitu yang aku rasa hari ini. )

Jumat, 29 Juli 2016

RUMAH SURGA

Berapa kali aku jelajahi jalan ini
tapi hanya nama-nama dan jejak kaki
kujumpai kian asin terjebab rutin

berapa kali aku harus singgahi
tempat, kutemui sekian banyak wajah
tapi wajahmu masih tak ada di sana

hanya wajahku, menekuk lukanya sendiri
tak mampu mengerti, jalanan putih ini
sepertinya aku mesti melihat diriku

kembali, aku membaca surat-suratmu
membaca terik yang ada di dekatku
seperti mengenang jalan-jalan ini

aku ingin berjumpa, tapi ringkihlah tubuh
sebatas harap akan jumpa yang sia-sia
rumah sepimu hanya tumbuh bunga-bunga.

Moncek, 300716

Jumat, 10 Juni 2016

SEBUAH CATATAN

Tanggal, 04 Juni 2016 sampai hari ini 11 Juni 2016. Ini bagi saya adalah titik, titik dari semua awal, semacam itulah kiranya, aku menyiapkan diri untuk sebuah perjalanan yang lebih bergairah lagi, sebuah loncatan, atau sesuatu yang lebih. Insaf diriku berpangku pada satu kekosongan, isi yang berai, satu keyakinan, satu kepercayaan, dan satu perhormatan, ini sekarang  adalah waktuku yang paling terbaik, aku tak akan bilang beruntung, atau bahagia, tapi aku mulai akan melakukan sesuatu hal yang lebih lagi, dengan siapapun, terbuka dan membuka diri dan dengan cara yang sama saya pahami, orang lain pahami, tak ada lagi kesempatan untuk mengeluh, duniaku bukan kecil-kecil, aku memiliki kesempatan yang lebih luas, waktu yang lebih longgar, dan berapa teman yang bisa aku ajak jalan, bukan ini lebih dari cukup, aku memiliki tubuhku, kekuatan terbesar yang aku punyai adalah senyum, adalah gairah itu sendiri. Ayo waktunya terbang, bukan jadi kupu-kupu yang selalu ingin kelihatan indah, tapi jadilah sebuah dunia dan taman, siapapun bebas datang, tidur, merokok dan makan tapi tentu akan timbal balik. Rasa nyaman itu ada karena adanya kesanggupan antar pihak. Fendi duniamu tak kecil, lakukan perputaran cepat. Hari ini, saat ini.

Rabu, 08 Juni 2016

LIRIK LAGU MY IMMORTAL

I'm so tired of being here
Aku sangat letih berada di sini

Suppressed by all my childish fears
Tertekan oleh ketakutanku yang kekanak-kanakan

And if you have to leave
Dan jika kau harus pergi

I wish that you would just leave
Kuharap engkau pergi saja

'Cause your presence still lingers here
Karena kehadiranmu masih berbekas di sini

And it won't leave me alone
Dan bayangmu takkan meninggalkanku


BRIDGE
These wounds won't seem to heal
Luka ini takkan pernah sembuh

This pain is just too real
Rasa sakit ini memang nyata

There's just too much that time cannot erase
Terlalu banyak hal yang tak bisa dihapuskan oleh waktu


CHORUS
When you cried I'd wipe away all of your tears
Saat kau menangis, kan kuseka semua air matamu

When you'd scream I'd fight away all of your fears
Saat kau ingin teriak, kan kuusir semua ketakutanmu

I held your hand through all of these years
Kugenggam tanganmu sepanjang tahun ini

But you still have all of me
Namun kau masih memiliki diriku

You used to captivate me
Dulu kau memikat hatiku

By your resonating light
Dengan cahayamu yang menggetarkan

Now I'm bound by the life you left behind
Kini aku terikat pada hidup yang kau tinggalkan

Your face it haunts
Wajahmu menghantui

My once pleasant dreams
Mimpi-mimpiku yang dulu menyenangkan

Your voice it chased away
Suaramu menghalau

All the sanity in me
Kewarasan dalam diriku


BRIDGE
CHORUS

I've tried so hard to tell myself that you're gone
Tlah berusaha keras kukatakan pada diriku sendiri bahwa kau tlah tiada

But though you're still with me
Namun meski kau masih bersamaku

I've been alone all along
Selama ini aku tlah sendiri


CHORUS

Selasa, 07 Juni 2016

HARI KEDUA.



Tentunya, tulisan ini tak akan jadi sebuah tulisan yang menurut penulis-penulis itu sebagai tulisan yang bagus, dan atau jelek. Aku ingin menulis saja, tanpa aku harus berpikir apa-apa. Tapi, pertama-tama aku mencoba menulis soal Ramadan, ah aku tepi keninginan itu, aku terlalu buruk untuk menjadi mendadak alim. Tetapi aku juga bahagia, melihat Imanoel Adeodatus Fin tak menyerah di hari kedua ini, meski dia sempat aku lihat pucat, saat aku tanya dia apa akan berhenti, dia dengan kuat bilang, tidak akan pa!, Kami pun melewati sore dengan pergi ke rumah Mamak, perempuan yang melahirkan saya, dan otomatis beliau jadi neneknya Iman dan Surga. Kami membelikan Susu agar darahnya tetap stabil. Cukup segitu saja yang saya ingin catat. Tapi aku selalu melihat mata mamakku, melihat wajahnya, dan membatinkan kata-kata ini, doakan aku mampu menjalani ini ma’ segera akan aku urus “surat dari timur” itu dan aku sudah sangat letih. Duniaku kecil di sini, di kampung ini dan segala dinamikanya. Biar lah aku tenggelam sebagai matahari di ufuk barat dan orang-orang tetap berharap selalu pagi, meski yang terbenam tak akan pernah ada di dalam ingatan.


Sabtu, 04 Juni 2016

PELUKAN YANG LEPAS
: untuk anakku

Subuh datang lagi anakku
kau masih melihat langit yang kini hitam
tak ada bintang-bintang karena awan
seperti kelamnya nasibku di bumi

Kini bukan lagi suara merdu
retakan ranting di musim hujan
dingin makin membelah ingatan
sedang setumpuk catatan tergelar

Di antara sepi ke sepi
aku mendengar lonceng itu kembali
berulang dan berpulang ke jalan lengang
kau menantiku di sana, anakku
di antara tangisanmu dan hujan itu

Bawal aku lari tanpa ada yang tahu
gerakan tubuhku, seperti kapas
menujumu, mencari pelukanmu
kini aku tak tahu, di mana langit itu
tempat bintang-bintangmu berkerlipan
tapi kini matakulah kunang-kunangmu,.

Moncek, 050616

UNTUK SARESTIDEVI


Mungkin tak akan lagi kau dengarkan, tawa kami
seperti kicau burung setiap pagi membangun mimpi
dan wajah ibu akan meletakan minum dan sapa
seperti manisan tak pernah lepas dari bibirnya

ada angin liris menyandera kedinginanku, anakku
kau paham bahwa awalnya seperti kidung; nyanyian itu
dari kapel, dari masjid dan bihara, kau dan aku kini luka
aku tak akan lagi; dan tak pernah lagi menoleh, padamu

di sana terlalu perih setiap kisah rumputan yang terinjak
terampas dari sejuk embun, tubuh bapakmu tak sepadan
bagi setiap siang yang membengkak di tulang punggung
ada yang tak terpisah, meski mungkin pernah sembuh

tak usah lagi anakku, kau dan aku memang terbuang
jauh menuju kedinginan yang lain, tempat pertemuanku
dan kau tak akan kesepian lagi, aku datang dari celah ini
dari setiap yang menetes dari pori-poriku, bukan embun
mataku, air mata darah yang tak kering meski kemarau

Ibu telah tak ada lagi menyimpan apapun dari kita
semangkok teh juga akan tumpah ditawa yang meriah
seperti pesta lampion atau pesta natalan dan lebaran
bagi tubuh, sekujur kenangan dan doaku jadi hujan

langit itu tak hanya bintang-bintang yang ada sayang
meski kerlipannya membuatmu pernah dilahirkan
tapi langit bukan bumi, di sini tak ada campuran itu
semua akan pulang ke tempatnya sebagai titik awal
sebagaimana kekosongan dan di sini tak ada pesta.

"Bangun Zuhal, kubuka jendela, menghadap ke timur
kudoakan tiap yang menetes adalah embun di bunga itu"

Moncek, 050616


Jumat, 13 Mei 2016

TASYAKURAN SEMESTERAN FORUM BELAJAR SASTRA (FBS) SAMPAI PADA PENTAS TEATRERIKAL


(Catatan Fendi Kachonk)
Proses evaluasi FBS

Terima kasih untuk seluruh kawan yang terlibat. Sekitaran 60an orang datang membawa bekal masing-masing, alat sholat dan terutama untuk persiapan pesta kenaikan kelas di kelas kami. Forum Belajar Sastra (FBS) telah melalui dinamikanya di perjalanan semester pertama. Demi mengucap sukur, berdoa dan menyatukan semangat kembali, mengelompokan ide yang juga menggerakan kami semua untuk belajar bersama maka kemarin, dimulai dari jam 12. 30 WIB proses evaluasi berjalan dengan hangat, aku melihat semangat mereka masih menyala dari tiap pasang mata, ada tawa dan senyum yang juga seperti isyarat dari rasa memiliki ke ruang yang kami cipta sendiri, dan kami perkuat sendiri.
Dari proses evaluasi lahir beberapa ide di semester kedua, serupa ulas sajak dari puisi-puisi kawan-kawan sendiri, dan pengulasnya juga dari dalam sendiri alias dari kawan-kawan Forum Belajar Sastra (FBS) sebagai satu acuan menguatkan proses belajar yang saling memberi dan menerima, melempar dan mengumpan, tentu bukan bola, tapi gagasan, ide dan pikiran. Selang berapa puluh ke menit, tepuk dan lagu dari lagu belajar bersama dinyanyikan dengan riang di pinggir pantai kandangan dan setelah itu dimulailah kegiatan berdoa bersama, bersama saling mendoakan agar kami semua tetap saling semangat, tak jenuh, tetap bertahan meski kami tahu jalanan selalu ada tikungan, tanjakan juga begitu dengan hidup selalu naik turunnya. Tapi, proses adalah proses dan kami memulyakan itu.
Saya jadi teringat, awal mula, dari titik diskusi pertama yang digagas Kampoeng Jerami mengenai konsep yang lahir, dan berkembang dari internal lembaga dan untuk kami sebagai bentuk dari harapan dan tujuan kami. Maka proses yang paling nyaman adalah “belajar bersama” dan kami melihat itu mulai nyala dari mata-mata kawan-kawan semuanya. Terbukti setelah acara bakar ikan dan makan-makan, kami ke pinggir pantai bersama, di sana ada puluhan gorong-gorong berbanjar membuat sesak tubuh pantai, di sana, kami mengisi gorong-gorong itu lalu tiba-tiba tempat itu jadi pentas langsung pembacaan puisi, teatrerikal lepas, dan lagu Indonesia Raya mengaum di sana. Di sana, kami bersama menyanyikan luka, menggambar penderitaan di pasir-pasir, menginginkan merdeka, dari tambak yang akan merebut pantai, dari reklamasi, dari penambangan pasirnya. Entahlah, sekelompok kawan-kawan saling jerit dibalas jeritan, sekelompok yang lain meracau, mengecam, sekelompok yang tertawa mungkin dari gambaran bahwa sudah banyak yang tak waras mengelola aset alam.
Di Panggung Dunia

Awalnya, ya awalnya, memang dari ide kecil, tapi tubuh-tubuh kami menjawabnya sebagai respon kepedulian, tiba-tiba dari perahu nelayan yang sedang dikayuh oleh sekelompok yang lain di tengah hantaman gelombang, badai yang seolah negeri ini sendiri, atau sebagai tubuh kami sendiri. Dari bibir pantai itu, ya dari bibir yang lain kami mendengar respon jiwa yang lain, suaranya minor, seperti suara perempuan. Awalnya kami tak percaya itu suara perempuan, tiba-tiba seluruh pandangan fokus pada suara tangisan itu, lalu ada kata-kata yang muncul lepas dari bibir yang awalnya tak kami percayai sebuah respon dari kelompok perempuan. Ketak percayaan kami musnah sudah, dan kami baru sadar, bahwa kata siapa perempuan madura takut melawan dan takut bersuara lantang, kata siapa di tubu kesenian kami tak ada suara dan tak ada perwakilan perempuan. Ya, ini satu prestasi, meskipun kami selalu gagap mengatakan sebuah prestasi bagi kami yang masih bayi dalam proses ini.
Kelompok perempuan itu terus bersuara, terus melepas dirinya, menampar ruang-ruang, membuat bibir pantai juga bergetar. Sedang posisi kelompok perempuan duduk seolah mereka memang selalu akan begitu, tapi kelompok itu mengambil pasir, meremasnya, dan tangannya mengepal nyari meninju udara di ruang hampa. Aku sendiri dalam kekacauan dibawa bimbang oleh suasana, lalu kebimbangan itu membawa ingatanku pada beberapa tahun yang lalu. Ya, aku sendiri pernah melihat perempuan-perempuan berteriak melawan, berdemo agar pengeborang Migas Tanjung digagalkan. Mereka perempuan yang selama ini dibilang tak hadir dalam konteks kebudayaan dan sekarang atau hanya mata buta yang tak melihat itu. Sekarang bathinku, mereka bermunculan sebagai srikandi kesenian yang mengakar dibumi dan tak tercerabut dari akar masalah yang sesungguhnya.
Aku sangat kaget, dari mulut perempuan itu keluar kata-kata ini “ jangan jadikan agama sebagai alat untuk memanipulasi keadaan kami, jangan gunakan agama sebagai alat merampas tanah kami, tanah kami adalah awal dan akhir bagi kami, jangan jadikan agama, jangan jadikan agama.” Suara itu keras, lalu berganti sedu sedan.
Sedang dari kelompok lain, tepatnya dari laut, sekelompok kawan yang lain pulang ke pantai, entah ini gambaran hidup, nelayan atau hidup nyata kami sendiri. Mereka membacakan puisi sambil menggerakan tubuh bersamaan dengan ombak, seperti sekelompok yang membawa letihnya dari seberang atau dari negeri entah ke negeri entah yang lain. Suara-suara yang susul menyusul, tiba-tiba terdengar bunyi seruling menyanyat telinga, tiba-tiba ada lagu yang terdengar: mereka dirampasnya haknya, tergusur dan lapar, lalu puisi-puisi muncul sebagai gelombang, dari negeri yang sama ke negeri yang beda hanya tetap saja di sini selalu saja ada luka. Di laut kami kesepian, pulang ke pantai kekasihku hilang, pantaiku tak perawan lalu negeri ke negeri kenyaatan yang mana lagi kami akan pulang? Suara itu, ah iya, suara itu lepas dari dalam jiwanya. Entah, apa masih ada yang mangatakan kalau ini racauan semata. Apa jiwa mereka tak yakin kalau jiwa tempat bermukimnya segala kepekaan di dunia.
Pentas Teaterikal



Berlalunya pementasan dengan panggung laut itupun selesai, sekarang dan ke depan, mungkin hanya itu yang akan kami kenang nanti. Saat kami siap jadi lilin dan lentera lalu menabur pijar-pijar ke tempat yang lain. Tapi proses ini memang selalu jadi bagian yang menggembirakan. Sampai malam pun datang, yang menetap dan bermalam sekitar 20 orang. Memang, acara bermalam itu bagi kawan yang punya kehendak dan bebas dari tugas lainnya. Malam pun kami isi dengan belajar menulis puisi langsung, aku pribadi sangat bahagia dari awal sampai akhirnya kami pulang pagi. Meski semalam, sekitar jam 12 Malam, hujan tiba-tiba berbondong menuliskan puisi pada tubuh kami. Tak alang kami jadi laut sendiri, dingin, gigil sampai ke tulang-tulang, tapi entah tahu-tahu kami tertawa terbahak-bahak dan masih merasa gembira. Sampai pagi, setelah matahari terbit, setelah berjalan di pinggir pantai. Kami pun ber sayonara lalu memilih pulang dan jalan ke rumah masing-masing, mungkin nanti juga akan jadi pribadi yang masing-masing.